LANDOL merupakan
istilah yang tidak asing bagi kita ‘penghuni dunia maya’, dimana para penghuni
secara sengaja atau tidak ‘ngrasani’ terhadap kejadian yang nyata di
wilayahnya. Mungkin kalau tidak terkena Landol di wilayahnya tentu tidak ada
rasan-rasanan, grup menjadi sepi karena tidak ada sesuatu yang harus
dimuntahkan. Sebenarnya adanya LANDOL bukan serta merta tanggungjawab seorang
kepala daerah, kepala camat, atau kepala kelurahan, tetapi kesalahan kita bersama,
kenapa kita (masyarakat yang disalahkan), karena mungkin jalan-jalan tersebut
(jalan desa) adalah tempat yang hanya dilintasi oleh kendaraan dengan beban
yang ringan dan tidak berat serta memberatkan kendaraan tersebut. Kadang pengguna
sukanya teledor, suka lebay, mengangkut barang dengan mobil trik misalnya
dengan kapasitas/tonase yang berlebihan, menurutnya adalah efisiensi. Efisiensi
yang dipaksakan. Sehingga jalan yang beraspal tanpa tipe ini menjadi retak-retak
dan terkelupas. Jalan landol biasanya terlihat di jalan-jalan desa.
Tegal kabarnya masalah
landol menjadi tema utama, kenapa? Karena banyak orang menggunakan jalan raya
atau jalan desa sebagai sarana yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari. Coba
kalau jalanan tidak halus atau tidak halus juga tidak apa-apa,yang penting bisa
dilalui dan tidak mengganggu perjalanan (mengganggu artinya jalanan tidak
bodol, berlobang) yang dapat membahayakan pengguna jalan tersebut. Jalan halus
atau tidak berlobang itu penting buat kita semua, terutama masyarakat yang
aktivitasnya adalah dijalan, sebagai sarana transportasi. Coba anda bayangkan
bila jalan desa saja menjadi tidak halus atau bodol, maka jalan desa tersebut
tidaklah akan dilalui oleh para pengguna, dan ke tempat itupun dengan terpaksa,
karena tidak ada jalan selain jalan itu. Dan bahayanya bila musim hujan tiba,
jalan bodol akan berubah menjadi sungai mini atau danau mini, disamping becek juga
berbahaya bagi pengendara yang melaluinya, bisa terpleset, terjatuh atau
ngguling.
Kembali kepada penguasa
di daerah tersebut, warga Tegal memang sudah memaklumi dengan kondisi yang ada,
coba di daerah lain, masyarakatnya mungkin akan berunjuk rasa, dan jangan
disalahkan bila masyarakat sudah turun ke jalan-jalan, menuntut hak umumnya. Atau
mungkin karena dengan sudah tak tahan melihat jalan-jalan tidak pernah
diperbaiki, maka inisiatif masyarakat dengan menanam pohon pisang di area jalan
yang bodol.
Ini adalah penilaian
masyarakat, mereka tidak bisa mengadu, lantas kepada siapakah mereka akan
mengadu, mungkin yang mempunyai Facebook, mereka akan membuat update status,
atau ngresula di grup Facebook yang semakin hari semakin marak saja. Lalu kenapa
pemerintah diam saja, mereka tidak diam, tidak mendengar keluhan masyarakat,
tetapi pejabat melihat sendiri dengan kondisi ini, mereka tidak bisa berbuat
banyak karena mereka tidak mempunyai anggaran untuk memperbaiki jalan-jalan
bodol tersebut, artinya mereka sekarang sudah miskin. Pusing dan tidak mampu
berbuat lebih banyak.
Lagu:
Cangkul-cangkul tanah yang dalam, menanam pohon pisang di jalan bodol...
July 26, 2016
Tags :
Berita01
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email


No Comments