Friday, 1 July 2016

thumbnail

Menilik Promosi Politik Yang Paling Murah


Biasanya menjelang pemilu baik pemilu kepala daerah (bupati, walikota, gubernur) di sepanjang jalan atau jalan-jalan tertentu terdapat beberapa Baliho dan Poster-poster yang berisi tentang nama orang, nama partai, nomor urut terkadang tercantum foto seorang ustadz kondang, kadang juga nama bapak dan keluarganya yang berpengaruh. Lengkap dengan senyuman yang manis atau garing dan membuat ilfeel. Adanya poster dan baliho tersebut kesanya memperjelek pemandangan kota yang sudah semakin kusut dan kadang juga ditempat yang tidak semestinya, hasil survey, bahwa poster atau baliho sering terlihat di letakkan di jembatan dan berjejer (poster partai). Kadang juga poster ditempatkan atau berjejer dengan poster iklan pendidikan. Seharusnya mereka sudah ditegur, tetapi apalah gunanya karena pemimpin kita yang terhormat selalu berkelit.

Saat kita menonton tivi di rumah, kita akan menjumpai kembali di selingan cara, hal yang demikian itu adanya perbedaan cara penyampaian tentunya. Kadang juga dia sangat menjengkelkan bagi pemirsa, iklan-iklan yang kampungan tersebut banyak sekali dan berjibun, yang pada akhirnya ditegur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), apalagi kalau kita melihat jeleknya rekam jejak oleh sang Kandidat dengan polesan bagai sang dewa penolong, mungkin kita akan membanting TV tersebut.

Kita harus ingat bahwa biaya yang dikeluarkan oleh satu orang DPRD saja bisa mencapai 300 jutaan untuk kampanye, tetapi kalau mau naik tingkat menjadi anggota DPR biaya bisa membengkak menjadi 1 milyar setengah, apalagi bila ingin menjadi seorang Presiden maka biaya yang harus dikeluarkan adalah mencapai Trilyunan rupiah. Coba anda bayangkan, bahwa seorang calon presiden tentunya membutuhkan survey politik guna mengarahkan kampanyenya, dan survey tersebut dibutuhkan dana sekitar 300 jutaan, hanya untuk sekali survey.

Dengan alasan itulah maka sangat memberatkan gaji sebagai anggota DPR, DPRD atau Presiden yang belum tentu dapat mengganti biaya saat kampanye. Oleh sebab itulah, dengan melihat kenyataan yang ada bahwa banyaknya kandidat melakukan tindak tidak terpuji sekaligus melanggar hukum, dan untuk meringankan beban yang sebelumnya dikeluarkan maka mencuri atau merampok dan apabila dia seorang incumbent atau pejabat penting maka oknum akan melakukan korupsi dan ini merupakan hal yang sangat miris.

Namun, kita tidak dapat memungkiri bila ada seorang kandidat yang bersih dan clink, tetapi setelah berkuasa dia malah menjadi kotor, kekotoran itulah diakibatkan oleh tuntutan berupa biaya kampanye yang belum bisa melunasi atau dia ingin terpilih kembali untuk tujuan balik modal, hal inilah sangat bisa terjadi, bagaimanakah anggota dewan di Kabupaten Tegal ?
Lantas, apakah ada upaya bagi sang kandidat untuk menghindari jebakan berbahaya seperti ini, coba anda baca artikel berikut cara menghindari jebakan dari sang kandidat bersih


Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments