Thursday, 21 July 2016

thumbnail

Oh Alun-Alun Slawi, How Are You

Eks Alun-Alun Slawi
Berita Pagi. Alun-alun Slawi entah karena mempunya firasat apa, ketika bangunan di depan Pemerintah Daerah dibongkar, padahal bangunan itu sudah bagus dan sangat bagus serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bukan dengan uang pribadi tetapi uang pemerintah (entah pemerintah yang mana). Bangunan yang begitu apik pada waktu itu sangat digemari oleh para pedagang-pedagang kaki lima, penjual bakso, penjual mie, penjual es dan lain sebagainya. Sebagai taman yang terkadang disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak mempunyai moral yaitu orang-orang yang pacaran dengan seenaknya, bebas berduaan. Yang anehnya cukup dibiarkan bahkan dijadikan tontonan gratis. Tidak ada langkah-langkah yang baik dari centeng Pemda yaitu Satpol PP guna mengusir mereka (orang-orang yang sedang memadu kasih). Inikan sama saja memfasilitasi untuk mereka, walaupun niatnya baik tetapi yah demikian adanya. 

Dan sekarang Alun-Alun Slawi pada pasca pembokaran terlihat cukup rapi, sejuk dan nyaman, entah selanjutnya fungsi dari bangunan itu akan seperti apa!, apakah nantinya akan dijadikan sebuah tempat atau panggung seperti panggung konser baik konser budaya atau konser band gratis agar apabila perhelatan akbar tidak nyewa lapangan dan cukup di Alun-Alun Slawi, kalaupun pembongkaran atau renovasi tersebut dibarengi dengan penebangan pohon-pohon yang tidak bermanfaat. Bolehlah usul agar pohon-pohon itu diganti dengan pohon mangga, pohon nangka, pohon kelapa, dan sebagainya. Sehingga Alun-Alun Slawi (AAS) akan terlihat beda dengan alun-alun sejenisnya.

Sebagai masyarakat awam yang kebetulan juga masyarakat Tegal itu awam banget, kadang sering negting (negatif tingking) terhadap sesuatu hal, misalnya jalan-jalan desa yang sekarang kebanyakan bodol dan bolong, masyarakat dibuat tidak tahu, apa rencana pemerintah dimana seakan-akan membiarkan jalan-jalan menjadi bodol atau enggan untuk memperbaikinya. Mungkin ada usaha atau rencana lain misalnya akan ada jalan layang yang akan melintas di wilayah tersebut, atau mungkin pemerintah lokal akan mengadakan off the road sehingga jalan-jalan desa dibiarkan menjadi seperti sekarang ini. Atau mungkin pemerintah di Kabupaten Tegal ingin menjadi Kabupaten menjadi kota yang berbeda dengan kota yang lain, sesuai dengan motonya “Tegal Laka-Laka”, Laka dalan alus, Laka perbaikan, Laka Perubahan dan laka-laka lainnya.

Dengan melihat ini semua, masyarakat hanya bisa bersabar, sabar menunggu sampai pemilukada mendatang yang akhir-akhir ini ada bisik-bisik bahwa pemain lama akan 'unjug gigi' menguasai Kerajaan Tegal ini.  Kita tunggu saja, siapa calon bupati yang berani berkata : “Pilihlah nomor sekian, misi saya adalah akan memperbaiki jalan-jalan bodol di desa se Kabupaten Tegal

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments