Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah akan memantau ketat inflasi karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah.
Nilai tukar rupiah telah bernilai lebih dari Rp 14.000 terhadap dolar AS dalam tiga hari terakhir, posisi terlemahnya sejak 2015. Perdagangannya pada Rp 14.074 terhadap dolar pada hari Rabu, menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), dari Rp 14.036 hari sebelumnya.
“Kita perlu melihat dan mempelajari dampak pelemahan rupiah melalui dua hal - inflasi yang bisa diakibatkan oleh barang-barang impor serta bahan bakar dan listrik bersubsidi,” kata Sri Mulyani di Jakarta pada Selasa malam seperti dilansir kompas.com.
Pemerintah dan Bank Indonesia bekerja sama untuk mengendalikan inflasi, kata menteri.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), impor meningkat 12,75 persen pada kuartal pertama 2018. Pertumbuhan impor yang tinggi menyebabkan defisit perdagangan pada bulan Januari dan Februari.
Sri Mulyani mengatakan dia membahas dampak subsidi BBM pada inflasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno.
Ketiganya berfokus pada bagaimana mempertahankan kinerja perusahaan minyak dan gas milik negara Pertamina dan perusahaan listrik milik negara PLN untuk memastikan bahwa program pemerintah dapat dilaksanakan sementara anggaran negara tetap sehat.
“Kami ingin melihat neraca keuangan di PLN dan Pertamina, terutama Pertamina, sehingga kami dapat memperkenalkan kebijakan untuk meminimalkan dampak gangguan eksternal,
May 09, 2018
Tags :
Berita01
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments